Mengapa Mesti Fajran Zain?
Oleh : Muhammad Nur Alam*
Suatu hari seorang tokoh pergerakan berkisah tentang Fajran pada saya. Saat masih kuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Fajran diajak masuk Organisasi Resimen Mahasiswa oleh temannya yang juga orang Aceh. Resimen mahasiswa merupakan semacam organisasi semi militer dikampus. Sebelum memutuskan ikut masuk, Fajran tampak berfikir sejenak lalu dengan mantap mendaftar masuk. Temannya bertanya "apa yang kamu pikirkan Fajran?", Fajran menjawab "mungkin suatu saat rakyat Aceh membutuhkan tambahan pasukan kalau perang terus terjadi". Begitulah Fajran, loyalitas dan kecintaannya pada Aceh sangat tinggi. Bahkan diawal menjadi mahasiswa ia sudah berfikir bagaimana membantu rakyat Aceh dengan segenap apa yang ia miliki.
Fajran terkenal cerdas. Bukan hanya cerdas, ia juga rajin dan tak hilang semangat soal bagaimana menempa diri untuk terus berkembang. Tercatat sejak pertama kali masuk kuliah dari S1 sampai S3 ia selalu mendapatkan beasiswa. Bahkan Fajran selain S2 di Jakarta, ia juga kuliah S2 di Ball State University, Indiana, Amerika, lalu melanjutkan kuliah S3 di Australian National University, Australia.
Tahun 1998 sampai tahun 2000 Fajran menjadi Koordinator Solidaritas Mahasiswa Untuk Kasus Aceh (SOMAKA). Ia dengan gigih berjuang agar keadilan untuk masyarakat ditegakkan oleh Jakarta dimana pada saat itu konflik sedang panas-panasnya. Di Aceh Fajran menjadi salah satu anggota Komisioner KKR Aceh dan sejak dulu aktif membina mahasiswa dan pemuda.
Kini, Doktor muda ahli Psiko-Politik itu mencalonkan diri untuk DPD RI. Sebagai seorang ilmuan dan akademisi mungkin ia tidak punya dana yang banyak sebagaimana para politisi untuk berkampanye disana-sini. Namun dukungan yang mengalir sejak awal sebelum ia mantap mencalonkan diri dirasanya semacam tanggung jawab dan beban moral yang harus ia tunaikan. Bahkan dukungan itu juga datang dari anggota DPD RI Rafli Kande untuk Fajran. Rafli yang pernah menjadi anggota DPD RI tau benar bagaimana fungsi DPD dan ia sangat yakin Fajran adalah orang yang tepat untuk dikirim masyarakat Aceh kesana.
Ditengah hingar bingar suasana politik yang panas ini, Fajran terus melangkah untuk menghadiri undangan masyarakat yang simpatik dan mendukungnya. Bahkan sejumlah masyarakat patungan membuat baliho dan atribut kampanye untuk Fajran agar Fajran tembus menuju DPD RI april nanti. Jika kita menyebut nama Fajran Zain ditengah masyarakat, pasti mereka akan menjawab "Fajran itu pintar sekali" atau "dia masih muda dan cerdas" atau juga "seperti dialah paling cocok menjadi anggota DPD RI mewakili suara kita orang Aceh".
*Penulis Adalah Pemerhati Sosial.