Opini
Pilkada Nagan, Uang dan Rukun Iman ke 7
Oleh : Andika Muttaqin Ismail*
Suhu politik Nagan kian memanas padahal belum final pilkada akan di selenggarakan pada 2022 mendatang. Kontestan yang muncul beragam. Masing-masing mengklaim ketokohan dan paling mampu untuk memimpin. Bahkan klaim tokoh tak berhenti pada calon, tapi timses pun seakan tidak tau diri, membuat statemen dengan menempatkan diri sebagai tokoh.
Begitulah rupa wajah politik kita. Jauh dari rasa malu dan hanya karena sesuap nasi, menggadaikan harga diri. Lalu bagaimana kita berharap ada generasi yang berintegritas untuk memimpin di masa depan nanti?
Dalam ruang publik, pembicaraan mengenai pilkada dan calon kepala daerah tidak lepas dari berbicara uang. Bahkan pada level masyarakat terpelajar juga sepertinya sudah mulai menjadikan uang sebagai rukun iman ke 7. Sebab pada ujung pembicaraan selalu ada kata "menyoe na peng pasti menang". Kata "pasti" adalah bentuk keyakinan mutlak terhadap uang yang diyakini menjadi penentu menang atau tidak. Ucapannya seakan melampaui pengetahuan tentang takdir. Seakan kemenangan bukan pada izin pencipta, melainkan pada uang.
Betapa kita terlalu amat jauh dari kebaikan dan hanya menaruh keyakinan pada modal financial. Inilah sebab, produk pemimpin hasil pilkada selalu jauh dari kata memuaskan.
Seharusnya pilkada itu bukan berbicara soal uang dan seberapa kayanya seseorang, tapi pada isi otak besar calon pemimpin tentang kemana masa depan Nagan Raya akan dibawa. Bagaimana agar menghidupkan ekonomi rakyat tidak hanya berharap pada APBK tahunan dan justru PAD meningkat tidak seperti siput merayap dalam kubangan. Sebab jika kerja hanya menghabiskan anggaran, betapa banyak emak-emak ahli belanja yang seharusnya paling layak menjadi pimpinan?. Ayo! Mari berbenah. Berfikirlah untuk masa depan dengan tidak menjadi penyembah uang.
*Penulis adalah masyarakat Nagan Raya