Opini

Aceh dan Al Azhar Mesir Antara Kampus dan Wakaf, Gagasan Membangun Kampus Wakaf Aceh

Published

on

Aceh dan Al Azhar Mesir Antara Kampus dan Wakaf, Gagasan Membangun Kampus Wakaf Aceh
Oleh : Tuanku Muhammad

Menarik membaca artikel Kompas baru-baru ini yang mengabarkan bahwa orang tua di Indonesia makin sulit biayai kuliah anak.

Artikel ini ditulis bukan karena tebak-tebakan saja tapi tentu melalui kajian data yang mendalam antara laju pendapatan warga Indonesia dengan laju SPP seorang mahasiswa. Setelah dikaji ternyata laju kenaikan SPP di kampus kebih kencang dibandingkan kenaikan pendapatan atau gaji. Akibatnya dikhawatirkan kedepan banyak orangtua di Indonesia yang akan semakin sulit dalam membiayai anaknya tercinta untuk bisa mauk kuliah apalagi jika dalam satu masa anaknya kuliah hingga lebih 2 orang.

Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan, terutama bagi mereka yang memiliki pendapatan yang pas-pasan. Memang akhir-akhir ini ada banyak jalur beasiswa yang dibuka baik dari pemerintah maupun lembaga non pemerintah. Namun tetap tidak mampu memberikan jaminan agar setiap generasi kedepan bisa mendapatkan pendidikan di kampus yang terbaik.

Terkait tersebut diatas, kondisi ini pasti terjadi di seluruh provinsi yang ada di Indonesia. Tidak terkecuali di Aceh. Banyak orang tua di Aceh yang mulai kesulitan mengkuliahkan anaknya di beberala kampus ternama di Aceh. Apakah itu disebabkan dengan biaya SPP yang tinggi maupun biaya hidup dan segala kebutuhan anaknya selama masa studi.

Menanggapi hal ini, salah satu solusi dari masalah ini adalah bagaimana kedepan lahirnya kampus-kampus yang terbaik namun dengan biaya yang murah. Salah satu contoh kampus tersebut adalah al Azhar University di Mesir. Al Azhar sebagai kampus tertua di dunia telah mampu berdiri mandiri dengan biaya SPP yang tergolong sangat murah bahkan gratis jika dibandingkan kampus-kampus yang berlevel Internasional lainnya. Ternyata itu semua bisa dilakukan berkat pengelolaan harta wakaf Al Azhar yang kemudian dari hasil pengelolaan itu membiayai seluruh operasional kampus dan segala hal yang berada di bawah naungannya. 

Pada tahun 1986, tercatat dana tunai sebesar 147,32 juta pound Mesir (setara Rp 110,6 miliar kini) diperuntukkan bagi pembiayaan 55 fakultas, termasuk 6.154 orang staf akademiknya. Bahkan Al Azhar juga pernah membantu mendanai negaranya yang sedang butuh dana ketika sedang berperang melawan israel.

Berkaca dari kampus Al Azhar, sudah selayaknya juga di Aceh diprakasai untuk dibangun sebuah kampus yang konsepnya berasal dari harta wakaf. Kampus yang dibangun nanti bertujuan untuk memberikan kepastian bagi anak-anak Aceh untuk bisa kuliah di kampus terbaik dengan biaya yang murah hingga bahkan gratis. Sehingga tidak ada lagi kekhawatiran bagi setiap orang tua di Aceh yang anaknya tidak bisa kuliah akibat biaya mahal.

Kampus wakaf Aceh ini juga dikelola secara profesional dengan target kedepannya mencapai level nasional hingga internasional. Tidak hanya membahas ilmu-ilmu keislaman saja tapi juga ilmu-ilmu umum.

Gagasan membangun kampus wakaf Aceh ini bukanlah suatu hal yang mustahil. Orang Aceh sudah dari dahulu terkenal akan kedermawanannya serta gigih dalam membantu tegaknya Islam.

Baitul Asyi di Mekkah menjadi bukti bahwa semangat membangun kampus dengan konsep wakaf di Aceh bukanlah hal yang mustahil untuk coba digagas kedepannya. Guna melahirkan generasi-generasi cerdas Aceh yang siap membangun Aceh yang lebih hebat kedepannya. 

*Penulis adalah Mahasiswa S3 UIN Arraniry