Opini
Asa tinta hitam dan pendidikan yang dipermainkan
Oleh: Maryulis, S.Pd
Bangsa dan negara menjadi besar karena manusianya yang berpendidikan. Hasil dari pendidikan adalah lahirnya manusia manusia cerdas, canggih dan berkeadaban yang dapat berkontribusi kepada sesamanya. Sehingga bisa kita pastikan bahwa untuk menjayakan bangsa dan negara indonesia mesti melalui pendidikan yang utuh dan terencana.
Dalam Era tekonologi informasi yang masif saat ini, kita menghadapi banyak tantangan baru. Karena begitu banyak pengaruh negatif yang bisa menggerus moralitas generasi penerus bangsa. Maka oleh sebab itu, negara dan pemerintah yang mengelola negara harus solid dalam memikirkan masa depan pendidikan indonesia.
Kita berharap agar seluruh komponen bangsa bisa menemukan formulasi baru yang canggih untuk membuat kebijakan di sektor pendidikan yang awet dan bisa menjawab tantangan zaman.
Namun, perasaan pesimis juga mendera kita, manakala kita masih mendengar di media berita atau media sosial, tentang ketidak jelasan dunia pendidikan kita, seperti kabar terakhir yang kita terima bahwa adanya kekeliruan dalam penulisan bukun kamus sejarah. Yang mana isi buku tersebut tidak lagi mencantumkan tokoh pendiri NU sebagai bagian dari sejarah kita.
Akibatnya timbullah polemik dan kegaduhan di ruang publik terutama umat islam yang sangat menyayangkan kebijakan pemerintah dalam hal ini kemendikbud. Seolah olah seperti ada upaya untuk menghilangkan sejarah bangsa indonesia.
Kejadian demikian, seharusnya tidak akan terulang lagi jika seandainya seluruh komponen bangsa baik pengelola negara maupun masyarakat biasa bersama sama memikirkan masa depan pendidikan indonesia. Semua ini akan teewujud jika kita melaksanakannya dengan pendekatan folosofis dan visioner, serta tidak dipengaruhi kepentingan politik pragmatis apapun dan oleh siapapun yang bisa mengacaukan dalam perumusan kebijakan di bidang pendidikan.
Makacdengan demikian asa tinta hitam bisa kita capai, dan sistem pendidikan indonesia tidak ada lagi yang bisa mempermainkannya.