Opini

Banjir dan Pemerintah Yang Terlatah-Latah

Published

on

Banjir dan Pemerintah Yang Terlatah-Latah

Oleh : Wiki Wijaya (Kader AHAN)

Banjir yang melanda aceh timur dan aceh utara bebera saat yang lalu, menjadi alarm bagi kita semua untuk tidak bersikap abai dan membiarkan bencana alam tersebut berlalu begitu saja.

Banjir disebabkan oleh kerusakan alam, juga merupakan akibat ulah manusia, baik perilaku manusia itu secara perseorangan maupun secara berjamaah, baik secara sistematis maupun tanpa terencana.

Banjir bisa di cegah, jika dilakukan langkah pencegahan yang tepat. Sebaliknya banjir juga bisa datang secara cepat dan mendadak jika sudah memenuhi sebab sebabnya.

Setiap orang bertanggung jawab atas bencana banjir dan berpotensi memiliki kontribusi untuk mempercepat datangnya bencana banjir. Masyarakat turut andil dalam mempercepat terjadinya bencana banjir. Pemerintah (negara) juga memiliki andil yang serupa. Apalagi perusahaan kapitalis raksasa yang terus menerus berupaya mengeksploitasi alam demi mengakumulasi profit.

Meskipun begitu, kita tidak boleh pesimis untuk bangkit secara bersama sama dan dimulai saat ini juga untuk memperbaiki semua kedunguan perilaku kita selama ini yang telah menyebabkan kerusakan alam yang pada akhirnya mengundang banjir yang tiada ampunnya.

Masyarakat bisa memulainya dengan tindakan yang kesannya sepele namun punya efek besar bagi alam, seperti tidak membuang sampah sembarangan, melestarikan lingkungan hidup, dan tindakan positif lainnya.

Pemerintah juga memiliki tugas penting dalam pencegahan banjir, tidak hanya tindakan reaktif semata yang selalu bertindak setelah banjir melanda, namun jauh hari harus mempersiapkan sistem preventif yang kompleks dan efektif.

Bisa berupa regulasi dan kebijakan yang pro lingkungan dan anti eksploitasi alam. Selanjutnya kita harus terus mengontrol semua tindak tanduk perusahaan (industri) yang ada sangkut pautnya dengan pemanfaatan sumber daya alam secara tidak bertanggung jawab. Sehingga alam bisa tercegah dari kerusakan.

Itu semua kembali kepada kita sebagai manusia yang menghuni bumi, sebagai masyarakat yang menempati suatu wilayah. Jika kita ingin kebaikan jangka panjang maka ada caranya. Namun jika kita ingin sengsara akibat bencana, maka berbuatlah sesuka suka kita.