Opini
Menyelami Kata Didik
Oleh : Burhanuddin Alkhairi
Dalam dunia pendidikan terdapat banyak kata yang digunakan dalam penyelenggaraan pendidikan. Salah satu penulis coba bahas dalam catatan kecil ini adalah kata didik. Pendidikan misalnya berasal dari kata didik, yang disisipi imbuhan pe- dan -an dapat bermakna (sebuah) proses. Sementara kata didik sendiri berdasarkan KBBI bermakna memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntunan, pimpinan). Contoh penggunaannya adalah "seorang ibu wajib didik anaknya baik-baik". Maka orang yang melakukan tugas didik dinamakan guru, sadar maupun tidak, seorang ibu secara otomatis adalah guru bagi anak-anaknya!
Dalam bahasa arab padanan kata yang memiliki kesesuaian dengan kata didik adalah kata tarbiyah. Tarbiyah berasal dari tiga pagertian kata yaitu "rabba, yurabbu, tarbiyatan" yang berarti memperbaiki sesuatu dan meluruskannya. Kalau di pahami lebih dalam, kata Rabba merupakan seakar kata dengan kata Rabb yang diartikan pemilik, pemelihara dan pendidik. Sementara itu pendidik dinamakan dengan murabbi, secara luas mengacu kepada pendidik yang tidak hanya mengajarkan sesuatu ilmu tetapi dalam waktu yang sama mencoba mendidik rohani, jasmani, fisik, dan mental anak didiknya untuk menghayati dan mengamalkan ilmu yang telah dipelajari.
Penggunaan kata dari asal bahasa yang penulis rujuk dalam tulisan ini, bertujuan membantu kita dalam menyelami makna terdalam dari pelaksanaan pendidikan. Karena mengenal penggunaan kata-kata itu adalah bagian yang tak boleh dipisahkan bagi siapapun. Sebab semua kita pasti pernah di didik dan/atau mendidik. Terlebih lagi yang hari ini diberikan tanggung jawab untuk mendidik, orang tua didik, penyelenggaraan pendidikan, mitra pendidik, tenaga kependidikan dan sebagainya. Kesemuanya itu merupakan iklim penting yang disepakati oleh pakar pendidikan secara lebih sederhana menjadi 3 pilar pendidikan yakni sekolah, keluarga dan masyarakat.
Untuk menggambarkan pilar-pilar ini secara sederhana adalah; Sekolah merupakan instansi yang mengorganisir pelaksanaan pendidikan formal secara terstruktur, sistematis dan berkelanjutan. Peran sekolah merupakan sebagai motor utama menjembatani tanggungjawab orang tua untuk "diproses, diproduksi, diolah" menjadi bahan jadi yang siap pakai di tengah-tengah masyarakat.
Pakar Pendidikan dari Akademi ITS Prof. Dr. Daniel Muhammad Rasyid menyebutkan bahwa Kita harus melihat keluarga sebagai satuan pendidikan yang utama dengan merancang kurikulum yang melibatkan keluarga, masyarakat, serta sekolah yang bersifat melengkapi, tambahan. Sekolah harus lebih banyak memberikan praktik kepada para peserta didik, tujuannya adalah memperluas kesempatan belajar untuk memulai hidup merdeka, mandiri, bertanggung jawab, sehat, dan produktif. Sehingga penting untuk menanamkan sifat, karakter yang menuntun keleluasaan belajar."
Pembinaan karakter yang komprehensif tidak hanya dibebankan kepada sekolah tetapi juga mengikutsertakan setiap elemen yang ada di masyarakat sebagai wadah pembinaan karakter setiap individu. Sehingga diperlukan otonomi dan pembagian tugas secara luas, lengkap dan terarah. Agar capaian bisa optimal yang didasarkan pada penguatan kurikulum yang sudah dibuat. Pencapaian itu akan terwujud dengan terbentuknya iklim dan kesadaran bersama dalam menjalankannya.
Selain menitik beratkan pada pendidik yang memberikan pengalaman belajar bagi anak didik secara langsung, mengarahkannya, dan mengawasinya. Diperlukan juga peran kolektif tenaga kependidikan di sekolah supaya apa yang disampaikan pendidik tidak abstrak yang bersifat teoritis semata. Pendidikan tentu punya daya yg kuat dalam mentransfer pengetahuan, sikap dan nilai. Karena proses pendidikan tidak semuanya bisa digantikan secara digital. Melainkan keikutsertaan dalam memberikan pengalaman kepada peserta didik secara konsisten, hingga bertumbuh dengan kemandirian dan tanggung jawab.
Sebagai penutup tulisan ini, kita hanya mampu melakukan apa yang telah kita ketahui dan apa yang bisa kita lakukan. Selebihnya merupakan ruang Hidayah dan Jalan taqdir yang telah Allah tentukan. Sebab sebenar-benarnya pendidik yang Maha sempurna adalah Allah 'azza wajalla semata. Allah hanya melihat dari apa yang kita kerjakan, yang dengan itu kita berharap dalam untaian do'a, sehingga Allah muliakan siapa yang bersungguh-sungguh dalam dunia pendidikan, guru, wali murid dan semuanya, masing-masing ambil peran untuk bekal amal kita kelak di hadapan Rabb kita. Amin.
Bismillah.. semoga!