Opini
Pendidikan Sebagai Mercusuar Perubahan
Oleh : Firwan Dani
Pendidikan merupakan salah satu bagian yang tidak terpisahkan dengan kehidupan manusia. Juga diyakini sebagai tangga menuju derajat tertinggi dan kunci menuju pintu kesuksesan, apa lagi di negeri yang menghasilkan kekayaan alam yang berkelimpahan, pastinya meningkatkan kualitas pendidikan menjadi hal serius bagi pemerintah setempat, agar putra-putri daerah dapat mengelola sendiri hasil kekayaan yang terdapat dinegerinya.
Tapi keseriusan pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan seakan tidak berlaku di daerah 3T (Tertinggal, terdepan, terluar), ditambah lagi mindset tentang pentingnya pendidikan masih belum diyakini oleh sebagian masyarakat di daerah tersebut.
Tidak bisa dipungkiri jika masih ada sebagian masyarakat yang menganggap pendidikan hanya kebutuhan sekunder yang tidak menjamin bisa menjadi kayu bakar bagi tungku mereka untuk bisa terus mengepul. Bagi sebagian masyarakat pedalaman, berkebun lalu panen dan berpenghasilan dengan cepat menjadi hal utama untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bahkan hal ini mereka yakini sebagai takdir yang harus dijalani.
Sebagaimana substansi pendidikan yaitu memanusiakan manusia, maka tidak heran jika pendidikan selalu menjadi objek yang menarik ditelisik dan diperbincangkan di setiap sisinya. Terlebih di era sekarang ini, era kemajuan teknologi dan perkembangan ilmu pengetahuan, memaksa setiap orang harus memilih salah satu pilihan untuk kehidupannya, mengikuti arus dengan jalan mengupdate perkembangan lalu beradaptasi atau melawan arus dengan konsekuensi tergerus oleh zaman dan ketinggalan jauh dibelakang.
Ada beberapa dari mereka yang ingin mengikuti perkembangan zaman lalu beradaptasi. Namun, pilihan itu berlawanan dengan keadaan, mau tak mau keinginan itu harus dikubur dalam-dalam. Hal ini disebabkan kurangnya perhatian pemerintah untuk masyarakat pedalaman.
Bagi tenaga pendidik di sekolah daerah terpencil, beragam masalah dan kendala yang mereka hadapi. Kondisi ini merupakan santapan keseharian di setiap langkah dan tarikan nafas. Baik kendala yang sifatnya klasik seperti yang berkaitan dengan peserta didik, akses sarana dan prasarana, sampai kepada masalah yang bersinggungan dengan pola pikir masyarakat setempat.
Krisis kesadaran terhadap pendidikan atau yang lebih fatal lagi yaitu sampai kepada minimnya dan bahkan lenyapnya kepercayaan masyarakat terhadap kehadiran sekolah di daerah mereka. Tentu tidak lepas dari kualitas yang dihasilkan atas kehadiran sekolah itu sendiri, atau mungkin juga mindset masyarakat yang memang telah mengakar sejak dahulu.
Hal ini, tentunya bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tapi tanggung jawab masyarakat, guru dan kita semua untuk mengikis sedikit demi sedikit segala macam masalah, menonjolkan eksistensinya dan menjadikan sekolah sebagai alat penerang bagi masyarakat awam. Tidak peduli sekolah itu berstatus baru atau lama, negeri atau bukan.