Opini
Refleksi 13 Tahun Perdamaian Aceh dimata Pemuda Bireuen
Ditulis Oleh : Azhari,S.Sy ( Ketua GPPM dan Alumni SPMA )
BIREUEN - Perdamaian Aceh bukan lahir begitu saja namun membutuhkan Proses pengorbanan harta, nyawa dan keluarga demi memperjuangkan harkat dan martabat bangsa ini, perdamaian Aceh antara RI dan GAM dimulai 15 Agustus 2005 dan kini sudah berjalan 13 Tahun atau tepatnya 15 Agustus 2018.
Genjatan senjata di seluruh pelosok, manyat terdampar di mana-mana seolah perang tidak akan reda seperti yang terlihat hari ini, air mata masyarakat setiap hari mengalir, rasa sedih dan trauma yang rakyat alami sehingga Aceh terpuruk Tanpa adanya perputaran ekonomi yang tajam dan pembangunan infrastruktur yang memadai karena pembakaran dan penembakan selalu terjadi di mana-mana.
Ketika Allah SWT memberikan perdamaian Tanpa terduga tapi dengan kehendak NYA semua nyata dalam sekejap mata demi masyarakat Aceh yang aman dan damai dalam menjalankan ibadah dan usaha.
Sehingga 13 tahun sudah perdamaian Aceh berlangsung, maka perlu introspeksi diri bagi para pejuang yang memangku amanah rakyat di parlemen, apa dan kenapa semua bisa terjadi begini, sehingga rakyat belum sejahtera, saat ini masih ada harapan yang tersisa pada mantan pejuang.
Kepedihan dan luka dimasa lalu belum hilang, namun kebahagiaan dimasa depan rakyat ingin merasakan dari hasil perjuangan yang pernah di ucapkan dalam rimba tuhan.
Kini semua eks GAM harus bersatu dalam satu barisan memperjuangkan wasiat dari indatu, 13 tahun ini sudah cukup para elit yang membawa nama Aceh hanya untuk kepentingan pribadi atau kolompok, hingga kini masyarakatnya masih Sengsara dalam desa, sehingga marwah perjuangan hilang Tanpa arti karena jabatan dan kekuasan satu perjuangan saling melupakan dan terjadinya permusuhan, cukup sudah ini terjadi.
Hari ini dan esok perlu waktu memperbaiki karena perdamaian Aceh lahir Dari keringat dan nyawa para syuhada yang telah kembali kepada sang Khaliq juga tidak lepas dukungan dari masyarakat Aceh semua.
Sudah saatnya satukan langkah bedakan pilihan bangun kekompakan capai tujuan untuk kemerdekaan Aceh baik ekonomi, pendidikan kesehatan dan lainnya.
saat ini para elit pemangku perubahan bangsa Aceh terjebak politik " hanafee ", namun dalam sekenario semua terjebak dalam kekuasaan dan kepentingan memperkaya diri serta kelompok, sudah cukup.
Anak syuhada, dan para duafa menanti perubahan di pelosok desa, otonomi khusus Aceh hampir habis tapi rakyat masih sengsara, maka dengan memperingati 13 tahun Perdamaian antara RI dan GAM ini memerlukan ide dan gagasan dalam keikhlasan membangun Aceh yang bermartabat sesuai sumpah diawal pergerakan dan dimasa dalam gunung.
Mari kita berzikir dalam memperingati hari perdamaian antara RI dengan GAM yg ke 13 ini agar keadaan damai sejahtera selalu kita rasakan, yang terhenti belum berakhir maka lanjutkan dalam diplomasi antar bangsa dan negara yang bahwa Aceh meminta merdeka dan pernah jadi negara serta kerajaan terbesar kala itu dia Asia.
Sejarah masa lalu merupakan sebuah ingatan untuk masa depan, namun doa dan harapan serta semua niat Kemuliaan tercapai dalam jiwa pejuang.[AF]