Catatan Harian Andika

Suatu Sore Bersama Rekan-Rekan BSI

Published

on

Suatu Sore Bersama Rekan-Rekan BSI

Sore tadi saya di undang mengisi kajian di salah satu Kantor BSI di Nagan Raya. Sebelumnya janji setelah ashar, tapi karena waktu yang cepat dan kesibukan masing-masing agak padat akhirnya jam 5 sore saya tiba di BSI dan kepala BSI beserta karyawan sudah terlihat siap pada tempat duduk masing-masing. Beberapa wajah saya kenal. Mereka adalah jama'ah di mesjid Baiturrahim. Sebagian lain adalah pegawai yang biasa saya lihat saat saya ada keperluan ke BSI. 

Kepala BSI terbilang cukup muda. Tapi ia punya selera humor yang bagus dan jiwa memimpinnya terlihat cukup baik. Leader di era modern memang beda dengan zaman dulu yang kaku dan keras. Psikologi masyarakat modern menyukai pemimpin yang cenderung merangkul dari pada memukul. Saat sistem semakin bagus, sebenarnya manusia hanya butuh tim yang solid dengan suasana kerja yang nyaman. Saya melihat suasana itu tadi ada di BSI. 

Saya ingat beberapa kantor media baru dan ternama di Indonesia. Tempatnya tak terlihat seperti tempat kerja yang kaku, seperti komputer duduk di masing-masing bilik kerja dengan deretan kertas menumpuk berjejeran seperti film Clark Kent si Supermen saat magang sebagai wartawan di kantor media sebelum akhirnya ia harus full menjaga bumi dari serangan makhluk luar angkasa.

 Ruang kantor beberapa media-media besar sekarang banyak lesehan untuk baring sambil memegang komputer. File tak lagi menumpuk diatas meja sebab semua sudah tersimpan rapi dalam hardisk atau flashdisk. Tak jarang dikantor ada ruang untuk rileks dan kolam renang juga taman untuk menyegarkan mata. Masyarakat modern menitikberatkan pada sistem kerja, maka sangat sesuai jika seorang pemimpin seperti seorang teman baik, tempat berbagi dan tempat saling menguatkan. Seakan usaha yang mereka jalankan adalah usaha keluarga yang harus mereka cintai. Btw, saya tidak boleh berlama-lama pada bagian ini, intinya, sore ini saya melihat sebuah semangat akhirat dalam kantor BSI. 

Kepala BSI tetiba bercerita setelah kajian selesai, bahwa program kajian yang dimulai dari membenarkan bacaan Al-Fatihah terinspirasi dari perjalanan umrohnya ke tanah Suci. Disetiap tiang mesjidil haram, katanya, ada syeikh-syeikh yang duduk bersila sambil memanggil para jamaah yang lewat untuk menyetor bacaan Al-Fatihahnya. Mungkin ia mulai berfikir, berarti Al-Fatihah itu spesial seperti yang banyak literatur sebutkan. Sahnya sholat juga sangat ditentukan oleh benarnya bacaan Al-Fatihah. Sepulang dari sana ia memulai program. Mengajak para karyawan atau tepatnya tim BSI untuk memperbaiki bacaan Al-Fatihah. 

Kesadaran seperti ini adalah kesadaran yang langka. Para karyawan BSI harus bersyukur punya pimpinan seperti ini. Dan begitupun sebaliknya, kepala BSI harus bahagia punya tim yang antusias menyambut ajakan baik itu. Sebab ada banyak yang luput dari kita manusia. Kadang kita benar-benar sepenuhnya memikirkan dunia seakan akan hidup selamanya. Kadang kita juga lupa kalau kematian dan akhirat amat sangat pasti akan datang menemui kita. 

Tadi, di penghujung kajian, saya menyampaikan kalau dikantor BSI itu dulu adalah tempat saya mengembala kerbau sehari-hari. Dan bundaran Simpang Peut dengan gapura sawit sebagai lambang kota ekonomi adalah jalur lintas kerbau-kerbau saya. Seakan baru kemarin saya mengembala dan tempat ini tak pernah terfikir akan jadi kota atau pusat keramaian. Begitu juga hidup dan usia. Ada banyak yang sudah berangkat menuju alam barzakh. Kita tak menyadari umur semakin berjalan dan kita belum punya bekal apapun. Bahkan mungkin Al-Fatihah saja kita masih terbata-bata. 

Semoga Allah memudahkan segala niat baik kita. Memudahkan lisan kita belajar dan membaca Al-Quran. Dan menganugerahkan kebaikan bagi kita di dunia juga di akhirat nanti. 


*Musala Ujong Rambong, Selepas Isya.